Friday, December 18, 2009

Untukmu Saudaraku II


Haruskah aku yang kuat, disaat kalian lemah agar aku menjadi penjaga dan penyemangat imanmu??

Haruskah aku yang kuat, disaat kalian kuat agar kalian tidak turut lemah jika melihatku lemah??

Tidak saudaraku, aku tidak mungkin seperti itu, aku tidak mungkin selalu kuat dan menguatkan kalian,
tidak mungkin aku selalu ada untukmu.

Jangan berharap aku akan terus mengangkatmu jika kalian tak sanggup berdiri, jangan berharap aku akan terus memapahmu jika kalian tak sanggup berjalan, jangan pernah seperti itu saudaraku, karena aku juga manusia biasa.

Friday, October 2, 2009

Kitakah yang gugur itu??


ya, diantara mereka ada yang melemah, kemudian gugur,...

dakwah ini...

IBARAT POHON,,,
ada saja daunnya yang mati dan berguguran, namun di sisi lain ada yang bertahan hingga pohon itu berbuah kemudian buah tersebut menjadi manfaat bagi pohon itu, serta bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya....

sedangkan daun-daunnya yang gugur, akan menjadi sampah....

Ibarat Pohon,,,
ketika daunnya rimbun, ia menjadi tempat bernaung dan pelindung dari panas terik matahari serta air hujan, tetapi, di sisi lain, angin yang menerpanya juga akan semakin besar...

di tengah terpaan angin itu, daun-daun yang tak mampu mencengkeram dengan erat ranting-rantingnya, maka merekapun kemudian ditakdirkan untuk ikut hembusan angin kemudian gugur,,,

Ibarat Pohon,,,
ada pohon yang merasa begitu besar dan angkuh menentang angin seakan-akan mengolok pohon yang lain, maka iapun roboh karena batangnya begitu rapuh...

ada juga pohon kecil yang menertawakan pohon besar yang roboh, pohon ini takut akan terpaan angin yang kencang, hingga ia takut tumbuh sehingga tak memilih untuk tumbuh...

akan tetapi ada pohon yang batang dan struktur yang mendukungnya kuat, maka ia dengan percaya diri menantang angin yang besar dan memberi contoh kepada pohon yang lain bahwa beginilah seharusnya kalian bersikap...

Wednesday, September 16, 2009

Untukmu Saudaraku...

Ba’da Tahmid wa Shalawat…

Kumulai tulisanku dengan mengutip sebuah pesan dalam Al-Qur’an yang memberikan amanah kepadaku untuk menyampaikan hal ini… amanah yang mengajariku mencinta, mencinta seorang saudara seperjalanan menuju ridho Allah swt…

“Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”…

Saudaraku, mengapa aku mengatakan bahwa ayat di atas mengajarkanku untuk mencinta? Mencinta seorang saudara lebih spesifiknya. Mengapa?...

Saudaraku, sesungguhnya aku berkata demikian, karena dalam Islam yang kufahami selama ini, saling menasehati merupakan salah satu bentuk cinta seorang saudara terhadap saudara yang lainnya, karena dengan menasehati, berarti saudara itu ingin melihat saudaranya menjadi lebih baik, ingin saudaranya menjadi orang yang kuat dalam menapaki jalan-jalan kebenaran serta jalan-jalan kesabaran, dan yang paling ia inginkan sebenarnya adalah pertemuan kembali denganmu di dalam surga-Nya… “Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga” itulah motivasinya…

Thursday, September 10, 2009

Apa Ya Judulnya?

Dari jauh... terlihat seorang tukang servis "kompor minyak tanah" keliling yang nampak lelah mengayuh sepeda kumbangnya yang sudah reot... peluh bercucuran membasahi kening lelaki yang terlihat sudah tidak muda itu, nafas terengah-engah setelah seharian berkeliling menantang terik matahari yang tak dapat diajak kompromi meskipun dalam keadaan menahan haus karena berpuasa... dalam hatinya ia dapat berkata "semoga ini menjadi bukti kecintaanku terhadap Allah, dan sebagai bukti tanggung jawabku akan kehidupan keluargaku..."... dengan semangat itu ia terus mengayuh sepedanya berkeliling di area kumuh memasuki lorong-lorong yang terlihat rawan...

senja mulai menyapa, namun ia baru mendapat beberapa pelanggan yang mau mereparasi kompornya... penghasilan yang ia dapat pada hari itu tidak cukup untuk membeli bahan makan untuk istri beserta 1 anaknya yang sudah beberapa hari ini hanya dapat menggunakan makanan berbuka sebagai makan sahurnya... meski dalam kondisi seperti itu, mereka sekeluarga masih tetap bersabar dan bertahan menjalankan perintah agama... mereka menganggap hal itu sudah biasa karena mereka sering mengalami hal yang sama di luar bulan ramadhan...

Wednesday, August 26, 2009

CIDAHA (CInta DAlam HAti)

“Eh, gimana kabarnya Jihan??” tanyaku pada Fia…

Jihan… itulah nama yang selalu kugunakan sebagai salah satu cara agar aku selalu dapat bercengkerama denganmu, agar waktu-waktu bersamamu selalu ada dan ada… Agar aku selalu dapat menikmati senyum-senyummu, tawa hangatmu, dan tingkah manjamu yang begitu menyejukkan…

Entah darimana rasa cinta ini berawal, akupun tak begitu tau, yang kutau hanya, bahwa aku sangat mendambakanmu, sungguh…

Ingin kuungkapkan melalui lisan ini, namun lidah ini kelu saat bertemu denganmu dan jantung ini terasa berdegup begitu cepat ketika kupaksakan mulut ini untuk mengungkapkannya, dan akhirnya aku tak bisa 
dan sampai kapanpun ‘mungkin’ aku takkan bisa…

Aku hanya bisa mengungkapkannya dalam bentuk yang abstrak, dalam bentuk perhatian dan dalam bentuk yang sejenis lainnya, aku tau bahwa ini adalah cara yang pasti sangat sulit agar engkau sadar akan rasaku, namun, hanya itulah mampuku, hanya itulah yang dapat ku persembahkan sebagai rasa cintaku padamu…

Monday, July 27, 2009

Inilah Dunia Islam Kita


(Untuk kita renungkan bersama...)

Kalimat Ust. Anis Matta dalam bukunya Arsitek Peradaban :

“Inilah Dunia Islam Kita : Pembersihan Etnis di Bosnia – Herzegovina, penindasan di Tajikistan dan seluruh Asia Tengah, pengusiran di Rohingya, kelaparan di Somalia. Anak-anak Palestina yang terpaksa mengambil peran Orang Tua mereka dalam menghadapi Agresor Yahudi, penindasan rakyat muslim Philipina yang tak kunjung selesai, dan Afghanistan yang harus memulai dari nol setelah Soviet memporak-porandakannya. Negara-negara teluk tak pernah dingin, scenario musuh-musuh Islam memecah belah mereka atas nama perbatatasan territorial, dan Mesir kini mencari gara-gara dengan tetangganya, Sudan atas nama perbatasan”.

“Wajah dunia Islam kita adalah lukisan sebuah bangsa yang selamanya sendu, kelam, kekanakan, dan serba amburadul. Darah dan air mata seakan tumpah di tanah kita tiada henti. Hanya satu hakikat yang membuat kita hingga kini masih tetap yakin. Luka ini, suatu saat pasti akan sembuh. Hakikat itu Sunnatullah. Ia menentukan sesuatu selalu ada batasnya. Kebesaran, dalam sejarah, selalu harus dibayar dengan harga mahal. Sebab, pohon kebesaran suatu umat hanya dapat tumbuh di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan”.

“Musibah datang silih berganti. Ini merupakan Sunnatullah. Ia membuka mata hati pada sebuah kenyataan yang mahajelas : yaitu, jatidiri keislaman kita. Penemuan jatidiri ini sebagai titik awal yang menandai kelahiran suatu umat. Harus ada tangis. Harus ada luka. Harus ada kematian. Sebab kisah kelahiran sebuah umat bermula dari tangis kelahiran, setelah lepas dari rahim kesedihan”.

Thursday, June 18, 2009

Hilang...

Cahaya itu menghilang... menghilang dari raut wajahmu yang dingin, hilang dari raut wajahmu yang slalu nampak serius...
Ya cahaya itu, cahaya wajah – wajah yang senantiasa terkena air wudhu, cahaya wajah – wajah yang selalu terkena pancaran nur ilahiyah ketika berada dalam setiap sujud – sujud di penghujung malam, cahaya yang akan menerangi kegelapan di yaumul akhir, cahaya setiap manusia yang akan mendapat syafaat Rasulullah di akhirat kelak...
Cahaya itu menghilang dari wajahmu saudaraku... menghilang menyisakan kelam dan ketidaknyamanan ketika orang lain menatap wajahmu...
Mengapa saudaraku?? Apakah semua ini salahku?? Apakah karena aku tak selalu bersamamu untuk menjaga imanmu?? Apakah ketika aku mengambil sebuah keputusan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengorbananmu adalah sebuah kesalahan?? Ataukah ketika aku ingin menghilangkan ketergantungan dirimu akan diriku??
Aku ingin melihat kekuatan dirimu saudaraku... aku ingin melihat itu... aku ingin melihat bahwa tanpa diriku engkau masih bisa berjalan tegap, tanpa diriku engkau masih bisa selalu hadir dalam setiap agenda – agenda dakwah... salahkah aku saudaraku?? Salahkah keputusan yang kuambil?? Bukankah engkau orang yang paham akan jalan dakwah ini?? Bukankah engkau yang selalu mendengung – dengungkan Al-Fahmu dalam setiap majelis – majelis ilmu para da’i – da’i Allah?? Dimana saudaraku?? Dimana realisasi al-fahmu itu? Dimana!?