Showing posts with label Catatan Fesbuk. Show all posts
Showing posts with label Catatan Fesbuk. Show all posts

Wednesday, May 11, 2011

Cuci Motor


Teringat sbuah kisah pada masa Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam..

Pada waktu itu, Bilal bin Rabah radhiyallahu anhu masih kafir dan masih menjadi budak. Kerjaannya tiap hari menumbuk gandum. Hari-harinya dilalui dgn penuh kesabaran dalam rangka memenuhi perintah majikannya. Hingga pada suatu hari, ketika ia sedang menumbuk gandum, ada sosok yang tak dikenalnya datang dan mengambil alat tumbuk kemudian menumbuk gandum seraya membantunya. Wajah pria itu tampan, postur tubuhnya gagah, rambut dan janggutnya licin serta rapi, tubuhnya sangat wangi, senyumnya indah, giginya rapi mengkilat. 'Siapa dia?' Fikir Bilal. Namun Bilal cuek saja dan tak terlalu memikirkannya, 'paling sebentar dia pergi dan tak kembali lg, yg pnting kerjaanku cepat selesai', ucapnya dlm hati.

Keesokan harinya, hal yg tak pernah diduga bilal terjadi. Pria gagah itu kembali datang dan kembali membantu pekerjaannya. Rasa heran mulai menyergapi perasaan bilal. 'Mengapa ia kembali datang?'

Esoknya, pria tampan itu datang kembali, esoknya datang lagi, lagi dan lagi.. hal ini trjadi berhari-hari, dan rasanya tak wajar bagi orang yg bukan budak namun mengerjakan pekerjaan budak.

Wednesday, December 15, 2010

Nikah... di Mataku...


Bismillahirrahmanirrahiim..

sekedar memberi sedikit gambaran tentang pandangan ku terhadap pernikahan serta pernak perniknya...

bagaimana saya memandang pernikahan itu sendiri...

ada yang pernah berkata padaku " saya takut menikah, belum sanggup, belum sanggup dengan ini, dengan itu, dan sebagainya, dan lain-lain, dan semua-semuanya..."

ada juga yang pernah bilang "menikah jangan melihat yang baik-baiknya saja, senang-senangnya saja, tapi lihat juga bahwa ternyata menikah memiliki sisi susah juga,,bahkan mungkin susahnya lebih banyak dari senangnya..."

ada pula yang pernah berkata "nikah itu berarti akan menambah tanggung jawab, tanggung jawab yang sangat besar, karena engkau mengambil tanggung jawab orang tuanya sebagai pembimbingnya, dan janjimu adalah janji kepada Allah..itulah mengapa pernikahan itu dikatakan sebagai 'miytsaqan ghaliyzha', perjanjian yang besar..."

dan ada yang pernah berkata "mank kamu dah dewasa?.. dah siap?.. gimana dengan pekerjaan?.. mau dikasih makan apa istrinya?.."

Friday, July 2, 2010

Ibroh dari Rihlah Forstar

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Mencoba untuk sedikit mengambil ibroh dari rihlah forstar kali ini...

>Games ta'aruf : Mengapa dalam kegiatan ini mesti ada games ta'aruf (saling kenal mengenal)?
Sebuah pepatah mengatakan bahwa "Tak Kenal maka Tak sayang", mengapa tak sayang? karena tak saling kenal, betul?? Padahal banyak hal yang dapat dilakukan oleh orang yang saling menyayangi, mengapa? karena atas dasar kasih sayang lah kita dapat saling bekerja sama, bukan kerja sama-sama. Mengapa ini penting? karena tanpa kasih sayang takkan ada amal jama'i, dan tanpa amal jama'i takkan ada kekokohan dalam suatu jama'ah...

>Games mencari jejak yang hilang : Games ini sempat ditanyakan oleh seorang ikhwa kepadaku tentang "apa sebenarnya ibroh dari games ini?"...pada saat itu, sy juga bingung menjawabnya, tapi setelah saya memperhatikan peserta memainkan games ini dari awal hingga akhir, ternyata ibrohnya menurut saya adalah terlatihnya kesabaran peserta dalam mencari sesuatu yang menjadi targetnya, atau rasa sabar yang seharusnya ada dalam setiap individu/kelompok yang memiliki tujuan/target. Atau, dalam setiap kegiatan, harus ada target yang jelas dan realistis, agar kita senantiasa bersemangat untuk mencapai target tersebut. Kemudian ibroh selanjutnya adalah perlunya pesaing agar kita semakin bersemangat dalam mencapai target terlebih dahulu. Yah, semacam Fastabiqul Khairat lah...

>Hiking : Nah, ini dia puncak dari aktivitas rihlah forstar kemarin, dan kayaknya kegiatan ini yang punya ibroh lebih banyak dibanding dengan ibroh games2 di atas. Dalam forum diskusi grup LSPP Forstar , ada yang mengatakan bahwa ukhuwah dalam kegiatan hiking tersebut "SANGAT TERASA", nah itu dia salah satu "efek" games ta'aruf, terlihat adanya saling mengasihi antar peserta, karena mereka sebelumnya sudah saling kenal, bisa antum(na) bayangkan jika sebelumnya antum(na) nggak saling kenal, pasti ada rasa segan diantara kalian bukan?? Takkan ada peluk-pelukan (sesama akhwat tentunya) ketika sampai di tujuan jika antum(na) nggak saling kenal, iya ndak??. Kemudian dalam perjalanan tentunya ada karakter/sikap yang muncul tanpa disadari oleh peserta maupun panitia, ada yang berkeluh kesah, ada yang marah-marah, ada yang menangis, ada yang tetap tegar, ada yang terus bersemangat dan membagi semangatnya, ada kerja sama yang kokoh, ada belas kasihan, dan lain-lain yang mungkin hanya tersirat di dalam hati masing-masing sehingga tak dapat kutulis, iye tak?? ^_^. Karakter/sikap seperti ini muncul karena beberapa hal, yang pertama mungkin karena ketidaksiapan dari individu itu sendiri. Kedua mungkin karena tidak jelasnya arah dan tujuan yang ingin dicapai. Iya ndak??

Thursday, May 20, 2010

Lisanmu...penghancurmu...

Kembali ku terpukul, kali ini dengan sangat keras, bahkan dahsyat!

Entah mengapa kata-katanya begitu mengganggu bahkan mengusikku,,sampai-sampai ku sangat membencinya,,apakah aku harus menghindarinya dengan pergi?? Ah...itu kita liat saja nanti... aku sih berharap dan sebenarnya tak ingin pergi darinya...bukan darinya (dia!!) tapi darinya (yang lain)... tak mau juga ku pergi meninggalkan jalan yang telah Allah tunjukkan untukku hanya karena dia! Memang, siapa dirimu yang bisa membuatku pergi dari jalan Allah?

Saturday, May 8, 2010

Makhluk Bertasbih Allah

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Assalaamu ‘alaykum Warahmatullohi Wabarokaatuh

Alhamdulillaahi Robbil ‘alamiin... segala puja dan puji hanya milik Allah SWT, yg hingga saat ini masih mnitipkan nikmat2-Nya kpada kita semua utk dimaksimalkan dalam krja2 mnuju surga-Nya...
Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Qudwah kita Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta sluruh Umat Muslim yg insya Allah istiqomah di Jalan-Nya...

Saudaraku skalian... Kejayaan Islam perlahan-lahan pasti akan datang, hal ini tentunya membutuhkan banyak kerja2 besar yang akan menyokongnya untuk segera terwujud... kerja-kerja besar tidak mungkin ada jika kita bergerak sendiri, tidak mungkin ada jika kita masih tenang dalam nikmat kesholehan pribadi kita... kalau kata Ali bin Abi Thalib ra., “kekeruhan dalam berjama’ah jauh lebih baik dari kejernihan dalam kesendirian”...

Allah SWT dalam kitab-Nya surah An-Nur ayat 41 berfirman : “Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Allah SWT, kita yakini bahwa tidak mungkin sembarang memasukkan makhluk-Nya ke dalam kisah-kisah kitab-Nya, Allah SWT pasti mempunyai maksud tertentu mengapa Dia memasukkan Burung yang mengembangkan sayapnya Ke dalam kitab suci-Nya itu... dan ternyata memang ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari burung yang mengembangkan sayapnya itu...

Yang pertama, burung (yg merupakan makhluk Allah) tau apa tujuan mereka hadir di dunia ini, yakni untuk bertasbih (beribadah) kepada Allah SWT, dan tau bagaimana bentuk tasbih (ibadah) nya kepada Allah SWT. Tentunya, kitapun sebagai manusia harus tau tujuan hidup kita, dan bagaimana kita beribadah..

Friday, December 18, 2009

Untukmu Saudaraku II


Haruskah aku yang kuat, disaat kalian lemah agar aku menjadi penjaga dan penyemangat imanmu??

Haruskah aku yang kuat, disaat kalian kuat agar kalian tidak turut lemah jika melihatku lemah??

Tidak saudaraku, aku tidak mungkin seperti itu, aku tidak mungkin selalu kuat dan menguatkan kalian,
tidak mungkin aku selalu ada untukmu.

Jangan berharap aku akan terus mengangkatmu jika kalian tak sanggup berdiri, jangan berharap aku akan terus memapahmu jika kalian tak sanggup berjalan, jangan pernah seperti itu saudaraku, karena aku juga manusia biasa.

Friday, October 2, 2009

Kitakah yang gugur itu??


ya, diantara mereka ada yang melemah, kemudian gugur,...

dakwah ini...

IBARAT POHON,,,
ada saja daunnya yang mati dan berguguran, namun di sisi lain ada yang bertahan hingga pohon itu berbuah kemudian buah tersebut menjadi manfaat bagi pohon itu, serta bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya....

sedangkan daun-daunnya yang gugur, akan menjadi sampah....

Ibarat Pohon,,,
ketika daunnya rimbun, ia menjadi tempat bernaung dan pelindung dari panas terik matahari serta air hujan, tetapi, di sisi lain, angin yang menerpanya juga akan semakin besar...

di tengah terpaan angin itu, daun-daun yang tak mampu mencengkeram dengan erat ranting-rantingnya, maka merekapun kemudian ditakdirkan untuk ikut hembusan angin kemudian gugur,,,

Ibarat Pohon,,,
ada pohon yang merasa begitu besar dan angkuh menentang angin seakan-akan mengolok pohon yang lain, maka iapun roboh karena batangnya begitu rapuh...

ada juga pohon kecil yang menertawakan pohon besar yang roboh, pohon ini takut akan terpaan angin yang kencang, hingga ia takut tumbuh sehingga tak memilih untuk tumbuh...

akan tetapi ada pohon yang batang dan struktur yang mendukungnya kuat, maka ia dengan percaya diri menantang angin yang besar dan memberi contoh kepada pohon yang lain bahwa beginilah seharusnya kalian bersikap...

Wednesday, September 16, 2009

Untukmu Saudaraku...

Ba’da Tahmid wa Shalawat…

Kumulai tulisanku dengan mengutip sebuah pesan dalam Al-Qur’an yang memberikan amanah kepadaku untuk menyampaikan hal ini… amanah yang mengajariku mencinta, mencinta seorang saudara seperjalanan menuju ridho Allah swt…

“Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”…

Saudaraku, mengapa aku mengatakan bahwa ayat di atas mengajarkanku untuk mencinta? Mencinta seorang saudara lebih spesifiknya. Mengapa?...

Saudaraku, sesungguhnya aku berkata demikian, karena dalam Islam yang kufahami selama ini, saling menasehati merupakan salah satu bentuk cinta seorang saudara terhadap saudara yang lainnya, karena dengan menasehati, berarti saudara itu ingin melihat saudaranya menjadi lebih baik, ingin saudaranya menjadi orang yang kuat dalam menapaki jalan-jalan kebenaran serta jalan-jalan kesabaran, dan yang paling ia inginkan sebenarnya adalah pertemuan kembali denganmu di dalam surga-Nya… “Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga” itulah motivasinya…

Thursday, September 10, 2009

Apa Ya Judulnya?

Dari jauh... terlihat seorang tukang servis "kompor minyak tanah" keliling yang nampak lelah mengayuh sepeda kumbangnya yang sudah reot... peluh bercucuran membasahi kening lelaki yang terlihat sudah tidak muda itu, nafas terengah-engah setelah seharian berkeliling menantang terik matahari yang tak dapat diajak kompromi meskipun dalam keadaan menahan haus karena berpuasa... dalam hatinya ia dapat berkata "semoga ini menjadi bukti kecintaanku terhadap Allah, dan sebagai bukti tanggung jawabku akan kehidupan keluargaku..."... dengan semangat itu ia terus mengayuh sepedanya berkeliling di area kumuh memasuki lorong-lorong yang terlihat rawan...

senja mulai menyapa, namun ia baru mendapat beberapa pelanggan yang mau mereparasi kompornya... penghasilan yang ia dapat pada hari itu tidak cukup untuk membeli bahan makan untuk istri beserta 1 anaknya yang sudah beberapa hari ini hanya dapat menggunakan makanan berbuka sebagai makan sahurnya... meski dalam kondisi seperti itu, mereka sekeluarga masih tetap bersabar dan bertahan menjalankan perintah agama... mereka menganggap hal itu sudah biasa karena mereka sering mengalami hal yang sama di luar bulan ramadhan...

Wednesday, August 26, 2009

CIDAHA (CInta DAlam HAti)

“Eh, gimana kabarnya Jihan??” tanyaku pada Fia…

Jihan… itulah nama yang selalu kugunakan sebagai salah satu cara agar aku selalu dapat bercengkerama denganmu, agar waktu-waktu bersamamu selalu ada dan ada… Agar aku selalu dapat menikmati senyum-senyummu, tawa hangatmu, dan tingkah manjamu yang begitu menyejukkan…

Entah darimana rasa cinta ini berawal, akupun tak begitu tau, yang kutau hanya, bahwa aku sangat mendambakanmu, sungguh…

Ingin kuungkapkan melalui lisan ini, namun lidah ini kelu saat bertemu denganmu dan jantung ini terasa berdegup begitu cepat ketika kupaksakan mulut ini untuk mengungkapkannya, dan akhirnya aku tak bisa 
dan sampai kapanpun ‘mungkin’ aku takkan bisa…

Aku hanya bisa mengungkapkannya dalam bentuk yang abstrak, dalam bentuk perhatian dan dalam bentuk yang sejenis lainnya, aku tau bahwa ini adalah cara yang pasti sangat sulit agar engkau sadar akan rasaku, namun, hanya itulah mampuku, hanya itulah yang dapat ku persembahkan sebagai rasa cintaku padamu…

Monday, July 27, 2009

Inilah Dunia Islam Kita


(Untuk kita renungkan bersama...)

Kalimat Ust. Anis Matta dalam bukunya Arsitek Peradaban :

“Inilah Dunia Islam Kita : Pembersihan Etnis di Bosnia – Herzegovina, penindasan di Tajikistan dan seluruh Asia Tengah, pengusiran di Rohingya, kelaparan di Somalia. Anak-anak Palestina yang terpaksa mengambil peran Orang Tua mereka dalam menghadapi Agresor Yahudi, penindasan rakyat muslim Philipina yang tak kunjung selesai, dan Afghanistan yang harus memulai dari nol setelah Soviet memporak-porandakannya. Negara-negara teluk tak pernah dingin, scenario musuh-musuh Islam memecah belah mereka atas nama perbatatasan territorial, dan Mesir kini mencari gara-gara dengan tetangganya, Sudan atas nama perbatasan”.

“Wajah dunia Islam kita adalah lukisan sebuah bangsa yang selamanya sendu, kelam, kekanakan, dan serba amburadul. Darah dan air mata seakan tumpah di tanah kita tiada henti. Hanya satu hakikat yang membuat kita hingga kini masih tetap yakin. Luka ini, suatu saat pasti akan sembuh. Hakikat itu Sunnatullah. Ia menentukan sesuatu selalu ada batasnya. Kebesaran, dalam sejarah, selalu harus dibayar dengan harga mahal. Sebab, pohon kebesaran suatu umat hanya dapat tumbuh di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan”.

“Musibah datang silih berganti. Ini merupakan Sunnatullah. Ia membuka mata hati pada sebuah kenyataan yang mahajelas : yaitu, jatidiri keislaman kita. Penemuan jatidiri ini sebagai titik awal yang menandai kelahiran suatu umat. Harus ada tangis. Harus ada luka. Harus ada kematian. Sebab kisah kelahiran sebuah umat bermula dari tangis kelahiran, setelah lepas dari rahim kesedihan”.

Thursday, June 18, 2009

Hilang...

Cahaya itu menghilang... menghilang dari raut wajahmu yang dingin, hilang dari raut wajahmu yang slalu nampak serius...
Ya cahaya itu, cahaya wajah – wajah yang senantiasa terkena air wudhu, cahaya wajah – wajah yang selalu terkena pancaran nur ilahiyah ketika berada dalam setiap sujud – sujud di penghujung malam, cahaya yang akan menerangi kegelapan di yaumul akhir, cahaya setiap manusia yang akan mendapat syafaat Rasulullah di akhirat kelak...
Cahaya itu menghilang dari wajahmu saudaraku... menghilang menyisakan kelam dan ketidaknyamanan ketika orang lain menatap wajahmu...
Mengapa saudaraku?? Apakah semua ini salahku?? Apakah karena aku tak selalu bersamamu untuk menjaga imanmu?? Apakah ketika aku mengambil sebuah keputusan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengorbananmu adalah sebuah kesalahan?? Ataukah ketika aku ingin menghilangkan ketergantungan dirimu akan diriku??
Aku ingin melihat kekuatan dirimu saudaraku... aku ingin melihat itu... aku ingin melihat bahwa tanpa diriku engkau masih bisa berjalan tegap, tanpa diriku engkau masih bisa selalu hadir dalam setiap agenda – agenda dakwah... salahkah aku saudaraku?? Salahkah keputusan yang kuambil?? Bukankah engkau orang yang paham akan jalan dakwah ini?? Bukankah engkau yang selalu mendengung – dengungkan Al-Fahmu dalam setiap majelis – majelis ilmu para da’i – da’i Allah?? Dimana saudaraku?? Dimana realisasi al-fahmu itu? Dimana!?

Wednesday, June 17, 2009

Membangun peradaban (sebuah permulaan dan harapan)

Aku tak tahu entah dari mana aku memulainya, tulisan inipun mungkin tak nyambung antara paragraph yang satu dengan paragraph yang lainnya, namun aku ingin engkau mengerti makna dan tujuan dari tulisan ini…
Yah… Mungkin bermula dari keterlibatanku dalam lingkaran kecil di sebuah masjid kecil dekat sekolahku, atau keterlibatanku dalam setiap aktifitas islam dan bertujuan mulia, ataukah dalam setiap buku2 bacaanku yang memuat sebuah konsep peradaban,, iya, peradaban Islam yang selama ini menjadi cita2 besar umat ini…
Dari situlah aku mungkin merasa tergerak untuk memulai sebuah peradaban baru di lingkungan sekitarku…
Aku memulainya dari sebuah konsep pergerakan individual menjadi pergerakan jama’ah… bermula dari kekuasaan islam atas diri menjadi kekuasaan kecil islam yang memimpin remaja muslim(ah)…
Konsep demikianlah yang mendasari setiap gerakan2 dakwahku, yang mendasari setiap manuver2 dakwah yang semakin fleksibel tanpa mencemarkan intinya…