“Eh, gimana kabarnya Jihan??” tanyaku pada Fia…
Jihan… itulah nama yang selalu kugunakan sebagai salah satu cara agar aku selalu dapat bercengkerama denganmu, agar waktu-waktu bersamamu selalu ada dan ada… Agar aku selalu dapat menikmati senyum-senyummu, tawa hangatmu, dan tingkah manjamu yang begitu menyejukkan…
Entah darimana rasa cinta ini berawal, akupun tak begitu tau, yang kutau hanya, bahwa aku sangat mendambakanmu, sungguh…
Ingin kuungkapkan melalui lisan ini, namun lidah ini kelu saat bertemu denganmu dan jantung ini terasa berdegup begitu cepat ketika kupaksakan mulut ini untuk mengungkapkannya, dan akhirnya aku tak bisa
dan sampai kapanpun ‘mungkin’ aku takkan bisa…
Aku hanya bisa mengungkapkannya dalam bentuk yang abstrak, dalam bentuk perhatian dan dalam bentuk yang sejenis lainnya, aku tau bahwa ini adalah cara yang pasti sangat sulit agar engkau sadar akan rasaku, namun, hanya itulah mampuku, hanya itulah yang dapat ku persembahkan sebagai rasa cintaku padamu…
Wednesday, August 26, 2009
Monday, July 27, 2009
Inilah Dunia Islam Kita
(Untuk kita renungkan bersama...)
Kalimat Ust. Anis Matta dalam bukunya Arsitek Peradaban :
“Inilah Dunia Islam Kita : Pembersihan Etnis di Bosnia – Herzegovina, penindasan di Tajikistan dan seluruh Asia Tengah, pengusiran di Rohingya, kelaparan di Somalia. Anak-anak Palestina yang terpaksa mengambil peran Orang Tua mereka dalam menghadapi Agresor Yahudi, penindasan rakyat muslim Philipina yang tak kunjung selesai, dan Afghanistan yang harus memulai dari nol setelah Soviet memporak-porandakannya. Negara-negara teluk tak pernah dingin, scenario musuh-musuh Islam memecah belah mereka atas nama perbatatasan territorial, dan Mesir kini mencari gara-gara dengan tetangganya, Sudan atas nama perbatasan”.
“Wajah dunia Islam kita adalah lukisan sebuah bangsa yang selamanya sendu, kelam, kekanakan, dan serba amburadul. Darah dan air mata seakan tumpah di tanah kita tiada henti. Hanya satu hakikat yang membuat kita hingga kini masih tetap yakin. Luka ini, suatu saat pasti akan sembuh. Hakikat itu Sunnatullah. Ia menentukan sesuatu selalu ada batasnya. Kebesaran, dalam sejarah, selalu harus dibayar dengan harga mahal. Sebab, pohon kebesaran suatu umat hanya dapat tumbuh di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan”.
“Musibah datang silih berganti. Ini merupakan Sunnatullah. Ia membuka mata hati pada sebuah kenyataan yang mahajelas : yaitu, jatidiri keislaman kita. Penemuan jatidiri ini sebagai titik awal yang menandai kelahiran suatu umat. Harus ada tangis. Harus ada luka. Harus ada kematian. Sebab kisah kelahiran sebuah umat bermula dari tangis kelahiran, setelah lepas dari rahim kesedihan”.
Kalimat Ust. Anis Matta dalam bukunya Arsitek Peradaban :
“Inilah Dunia Islam Kita : Pembersihan Etnis di Bosnia – Herzegovina, penindasan di Tajikistan dan seluruh Asia Tengah, pengusiran di Rohingya, kelaparan di Somalia. Anak-anak Palestina yang terpaksa mengambil peran Orang Tua mereka dalam menghadapi Agresor Yahudi, penindasan rakyat muslim Philipina yang tak kunjung selesai, dan Afghanistan yang harus memulai dari nol setelah Soviet memporak-porandakannya. Negara-negara teluk tak pernah dingin, scenario musuh-musuh Islam memecah belah mereka atas nama perbatatasan territorial, dan Mesir kini mencari gara-gara dengan tetangganya, Sudan atas nama perbatasan”.
“Wajah dunia Islam kita adalah lukisan sebuah bangsa yang selamanya sendu, kelam, kekanakan, dan serba amburadul. Darah dan air mata seakan tumpah di tanah kita tiada henti. Hanya satu hakikat yang membuat kita hingga kini masih tetap yakin. Luka ini, suatu saat pasti akan sembuh. Hakikat itu Sunnatullah. Ia menentukan sesuatu selalu ada batasnya. Kebesaran, dalam sejarah, selalu harus dibayar dengan harga mahal. Sebab, pohon kebesaran suatu umat hanya dapat tumbuh di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan”.
“Musibah datang silih berganti. Ini merupakan Sunnatullah. Ia membuka mata hati pada sebuah kenyataan yang mahajelas : yaitu, jatidiri keislaman kita. Penemuan jatidiri ini sebagai titik awal yang menandai kelahiran suatu umat. Harus ada tangis. Harus ada luka. Harus ada kematian. Sebab kisah kelahiran sebuah umat bermula dari tangis kelahiran, setelah lepas dari rahim kesedihan”.
Thursday, June 18, 2009
Hilang...
Cahaya itu menghilang... menghilang dari raut wajahmu yang dingin, hilang dari raut wajahmu yang slalu nampak serius...
Ya cahaya itu, cahaya wajah – wajah yang senantiasa terkena air wudhu, cahaya wajah – wajah yang selalu terkena pancaran nur ilahiyah ketika berada dalam setiap sujud – sujud di penghujung malam, cahaya yang akan menerangi kegelapan di yaumul akhir, cahaya setiap manusia yang akan mendapat syafaat Rasulullah di akhirat kelak...
Cahaya itu menghilang dari wajahmu saudaraku... menghilang menyisakan kelam dan ketidaknyamanan ketika orang lain menatap wajahmu...
Mengapa saudaraku?? Apakah semua ini salahku?? Apakah karena aku tak selalu bersamamu untuk menjaga imanmu?? Apakah ketika aku mengambil sebuah keputusan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengorbananmu adalah sebuah kesalahan?? Ataukah ketika aku ingin menghilangkan ketergantungan dirimu akan diriku??
Aku ingin melihat kekuatan dirimu saudaraku... aku ingin melihat itu... aku ingin melihat bahwa tanpa diriku engkau masih bisa berjalan tegap, tanpa diriku engkau masih bisa selalu hadir dalam setiap agenda – agenda dakwah... salahkah aku saudaraku?? Salahkah keputusan yang kuambil?? Bukankah engkau orang yang paham akan jalan dakwah ini?? Bukankah engkau yang selalu mendengung – dengungkan Al-Fahmu dalam setiap majelis – majelis ilmu para da’i – da’i Allah?? Dimana saudaraku?? Dimana realisasi al-fahmu itu? Dimana!?
Ya cahaya itu, cahaya wajah – wajah yang senantiasa terkena air wudhu, cahaya wajah – wajah yang selalu terkena pancaran nur ilahiyah ketika berada dalam setiap sujud – sujud di penghujung malam, cahaya yang akan menerangi kegelapan di yaumul akhir, cahaya setiap manusia yang akan mendapat syafaat Rasulullah di akhirat kelak...
Cahaya itu menghilang dari wajahmu saudaraku... menghilang menyisakan kelam dan ketidaknyamanan ketika orang lain menatap wajahmu...
Mengapa saudaraku?? Apakah semua ini salahku?? Apakah karena aku tak selalu bersamamu untuk menjaga imanmu?? Apakah ketika aku mengambil sebuah keputusan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengorbananmu adalah sebuah kesalahan?? Ataukah ketika aku ingin menghilangkan ketergantungan dirimu akan diriku??
Aku ingin melihat kekuatan dirimu saudaraku... aku ingin melihat itu... aku ingin melihat bahwa tanpa diriku engkau masih bisa berjalan tegap, tanpa diriku engkau masih bisa selalu hadir dalam setiap agenda – agenda dakwah... salahkah aku saudaraku?? Salahkah keputusan yang kuambil?? Bukankah engkau orang yang paham akan jalan dakwah ini?? Bukankah engkau yang selalu mendengung – dengungkan Al-Fahmu dalam setiap majelis – majelis ilmu para da’i – da’i Allah?? Dimana saudaraku?? Dimana realisasi al-fahmu itu? Dimana!?
Wednesday, June 17, 2009
Membangun peradaban (sebuah permulaan dan harapan)
Aku tak tahu entah dari mana aku memulainya, tulisan inipun mungkin tak nyambung antara paragraph yang satu dengan paragraph yang lainnya, namun aku ingin engkau mengerti makna dan tujuan dari tulisan ini…
Yah… Mungkin bermula dari keterlibatanku dalam lingkaran kecil di sebuah masjid kecil dekat sekolahku, atau keterlibatanku dalam setiap aktifitas islam dan bertujuan mulia, ataukah dalam setiap buku2 bacaanku yang memuat sebuah konsep peradaban,, iya, peradaban Islam yang selama ini menjadi cita2 besar umat ini…
Dari situlah aku mungkin merasa tergerak untuk memulai sebuah peradaban baru di lingkungan sekitarku…
Aku memulainya dari sebuah konsep pergerakan individual menjadi pergerakan jama’ah… bermula dari kekuasaan islam atas diri menjadi kekuasaan kecil islam yang memimpin remaja muslim(ah)…
Konsep demikianlah yang mendasari setiap gerakan2 dakwahku, yang mendasari setiap manuver2 dakwah yang semakin fleksibel tanpa mencemarkan intinya…
Yah… Mungkin bermula dari keterlibatanku dalam lingkaran kecil di sebuah masjid kecil dekat sekolahku, atau keterlibatanku dalam setiap aktifitas islam dan bertujuan mulia, ataukah dalam setiap buku2 bacaanku yang memuat sebuah konsep peradaban,, iya, peradaban Islam yang selama ini menjadi cita2 besar umat ini…
Dari situlah aku mungkin merasa tergerak untuk memulai sebuah peradaban baru di lingkungan sekitarku…
Aku memulainya dari sebuah konsep pergerakan individual menjadi pergerakan jama’ah… bermula dari kekuasaan islam atas diri menjadi kekuasaan kecil islam yang memimpin remaja muslim(ah)…
Konsep demikianlah yang mendasari setiap gerakan2 dakwahku, yang mendasari setiap manuver2 dakwah yang semakin fleksibel tanpa mencemarkan intinya…
Thursday, April 2, 2009
TIPS BELAJAR : MEMBACA CEPAT (2)
Oleh : Andreas Harefa
Kemauan dan kemampuan membaca Theodore Roosevelt, salah seorang presiden Amerika, sungguh luar biasa. Ia ditemukan membaca tiga buku dalam seharinya selama di Gedung Putih. Presiden Amerika lainnya, John F. Kennedy, diketahui mampu membaca dengan kecepatan mengagumkan, 1.000 kpm (kata per menit). Ini tentu prestasi yang luar biasa. Sebab, mengutip Harry Shefter yang pernah menulis Faster Reading Self Thought, pada umumnya orang biasa dapat melatih dirinya membaca sampai 350-500 kpm saja.
Hal yang sama juga ditegaskan Norman Lewis dalam karyanya How To Read Better and Faster. Fakta yang Lewis temukan dari Reading Clinic, Darmouth College, dan fakta dari kursus-kursus membaca cepat di Universitas Florida maupun Universitas Purdue, menunjukkan bahwa orang yang tidak terlatih hanya mampu membaca sekitar 110-245 kpm saja. Dan bila mereka dilatih selama 2-4 minggu (tidak disebutkan berapa jam pelatihannya), maka kemampuan itu dapat ditingkatkan menjadi 325-500 kpm. Apakah hal yang sama berlaku untuk orang Indonesia? Diperlukan suatu penelitian untuk menjawabnya.
Hal yang sama juga ditegaskan Norman Lewis dalam karyanya How To Read Better and Faster. Fakta yang Lewis temukan dari Reading Clinic, Darmouth College, dan fakta dari kursus-kursus membaca cepat di Universitas Florida maupun Universitas Purdue, menunjukkan bahwa orang yang tidak terlatih hanya mampu membaca sekitar 110-245 kpm saja. Dan bila mereka dilatih selama 2-4 minggu (tidak disebutkan berapa jam pelatihannya), maka kemampuan itu dapat ditingkatkan menjadi 325-500 kpm. Apakah hal yang sama berlaku untuk orang Indonesia? Diperlukan suatu penelitian untuk menjawabnya.
Saturday, February 14, 2009
Yuk, Kita Khitbah!!
Duh, judulnya kok provokatif banget ya Hmm nggak juga kok Lagian kenapa musti ditutup-tutupi, iya nggak? Masak kita kalah sama yang aktivis pacaran. Mereka sampe nekat over acting di depan banyak orang. Nggak tanggung-tanggung, mereka cuek aja bermesraan. Nggak peduli lagi dengan orang di sekitarnya. Bahkan mungkin ada rasa puas udah bisa ngasih hiburan ke orang lain. Hih, dasar!
Lihat aja di angkot, di pasar, apalagi di mal, ada aja pasangan ilegal ini yang nekat melakukan adegan yang bisa bikin orang yang ngeliat merasa muak dan sebel. Aksi nekat dan berani malu memang. Hubungan gelap dan liar!
Pacaran dikatakan hubungan gelap? Ya, sebab, ikatan antara laki-laki dan wanita yang sah dalam pandangan Islam adalah dengan khitbah dan nikah. Nggak ada selain itu. Dengan demikian yang boleh dibilang sebagai hubungan yang terang itu adalah khitbah dan nikah itu. Namun demikian, jangan dianggap bahwa khitbah sama dengan pacaran islami, lho. Itu salah besar sodara-sodara.
Sobat muda muslim, khitbah dalam bahasa Indonesia artinya meminang. Udah pernah kenal istilah ini? Jangan sampe kuper ya? Apalagi selama ini, kayaknya banyak juga dari kita yang nggak kenal istilah-istilah islami. Yang kita hapal betul dan udah terformat dalam otak dan pikiran kita adalah istilah dan aturan main yang bukan berasal dari Islam. Jadinya ya pantes aja nggak ngeh, bahkan mungkin nggak kenal sama sekali. Memprihatinkan memang.
Anehnya, kita lebih kenal dan paham istilah pacaran. Akibatnya, sebagian besar dari kita mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maklum, perbuatan itu kan selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Itu mutlak lho, nggak bisa ditawar-tawar lagi.
Ujungnya, ada juga yang kemudian menganggap bahwa pacaran adalah semacam aktivitas wajib bagi orang dewasa, ketika ingin memilih or mencari pasangan hidup. Itu sebabnya, jangan heran pula kalo ada ortu yang begitu resah dan gelisah ketika menyaksikan anak gadisnya masih menyendiri. Pikirannya selalu yang serem-serem. Ujungnya, untuk mengusir perasaan itu, nggak sedikit ortu yang tega ngomporin anaknya supaya nyari pasangan. Dalam beberapa kasus malah lebih mengerikan, ada ortu yang ngasih pernyataan, bahwa siapa pun deh pacar anak gadisnya yang penting laki-laki. Wacksss Nah lho, apa nggak salah tuh? Tentu salah dong dalam pandangan Islam. Kok nggak disuruh nikah? Kok malah dibiarin pacaran dulu? Waduh. Bahaya Mas! Dan, tentunya ada juga di antara mereka yang menjalani aktivitas itu karena memang nggak tahu hukumnya, alias kagak nyaho, jadinya ya kayak begini ini.
Apa yang kudu dilakukan sebelum khitbah?
Thursday, February 12, 2009
Jangan Putus Asa : TIGA LANGKAH LAGI!!
Kata menyesal sering terjadi disaat kita telah mengambil keputusan yang salah karena kita sudah putus asa. Bahkan akibat dari putus asa ini dapat menimbulkan kerugian materi. Seperti kisah seorang penambang emas berikut ini.
Ada seorang pria yang memiliki mata pencaharian sebagai penambang emas. Awalnya pria tersebut hanya mencari emas di tempat umum yang biasa orang mencari emas di sana, namun hasilnya kurang menggembirakan. Kemudian ditemukan sebidang tanah yang diperkirakan banyak mengandung emasnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya pria tersebut memutuskan menjual rumah dan harta bendanya. Hasil dari penjualan tersebut dibelikan tanah yang diperkirakan banyak mengandung emas tadi.
Subscribe to:
Posts (Atom)